Mom's day

Senin, 21 Desember 2009


Hari ini tak jauh beda dengan hari hari sebelumnya. Aktivitas dirumahku pun berjalan seperti biasa, pagi pagi mama udah bangun dan membangunkan adik adikku yang terkenal susah untuk dibangunkan. Tapi dengan sabar mama terus berusaha membangunkan adik adik agar mereka tidak terlambat untuk pergi ke sekolah. Aku yang sedari malam telah berencana untuk memutar lagu potret yang berjudul Bunda akhirnya melakukan itu.


Setelah rencanaku ku lakukan, lalu aku menyalakan tape tuaku. Aku sudah menduga sebelmnya, disetiap ada sebuah hari besar maka media massa akan ramai ramai memberitakannya. Hal itu pula yang terjadi di radio favortiku, disana diputarkan lagu dengan tema Ibu dan topik topik yang dibahsa pun tentang ibu.

Ingin sekali aku meneteskan air mataku, tapi maaf ma egoku masih terlalu tinggi. Aku masih belum mampu untuk membahagiakannu, HAPPY MOM's Day

Paradigma yang Salah

Setelah lama ga nge=blog akhirnya aku kembali dengan suasana yang baru hehehe,.sedikit coretan tangan ini semoga ga menyinggung orang orang disekelilingku..

Semua ini berawal saat aku memasuki sebuah PTN di kota metropolitan. Disana aku bertemu dengan banyak teman baru. Akupun tidak menaruh sedikit curiga terhadapa mereka hingga pada suatu saat semuanya berubah.

Malam itu adalah malam ke dua masa ospek kita disebuah hutan di daerah selatan kota tempat PTN aku berada. Tengah malam kami dipaksa bangun karena panitia ospek menemukan pelanggaran yang tidak bisa ditolerir. Satu persatu dari kami di interogasi tapi sayang tidak ada yang mau mengaku. Karena kami mendapat ancaman, maka aku maju rela mengorbankan diri dan menjaminkan diriku agar teman teman tidak mendapat hukuman. Jujur pada saat itu tidak sedikitpun terbesit di benakku tentang kejadian yang akan terjadi. “hahahah, sok pahlawan kamu?” bentak seorang senior tepat didepan wajahku. Aku pun mencoba menghindar dan berkata “bukan mas, aku bukan sok pahlawan. Tapi aku yakin teman teman memang tidak melakukan hal itu”. “Sok tau kamu, emang kamu kenal mereka?emang kamu tahu mereka?” bentak senior. “aku emang belum kenal mereka,tapi aku yakin mereka ga salah” sautku. “hahahah,emang baru berapa lama kalian kenal? Sampai kamu berani ngomong gitu?” bentak mereka. Suasana pun sunyi, hingga akhirnya razia itu dibubarkan dan hari berganti begitu saja tanpa ada lagi pembahasan tentang hal semalam.

Seiring jalannya waktu, aku terus berpikir akan perkataanku “kenapa ya aku berani menjaminkan diri? Apa aku memang benar benar mengenal mereka?”. Waktu terus berjalan hingga datang masa UTS, semua sibuk dengan absen, tilang karena TA (titip absen,red), masalah nilai tugas, dll. Tapi aku dan beberapa temanku sibuk dengan belajar bersama. Akhirnya masa UTS telah selesai dan keluarlah nilai UTS, banyak dari mereka yang menangis karena merasa kecewa dengan nilai yang mereka dapat.

Beberapa saat setelah UTS, beberapa dari mereka mulai berubah. Mereka berusaha memperbaiki nilai dengan cara serius dalam kuliah, bahkan akupun merasa minder karena kekuranganku. Tapi sebagian lain dari mereka malah “menjadi jadi”. Aku tak faham dengan jalan fikiran mereka.

Dulu aku punya sebuah pendapat kalau orang orang yang berkelakuan buruk hanyalah orang dari kalangan bawah yang selalu kesulita dalam hidupnya dan kalangan atas yang broken home. Tapi kini semua paradigaku berubah. Ini sebuah kisah tentang seorang yang mengikuti banyak organisasi dan ingin tampil eksis di setiap organisasi yang diikutinya. Sebuah kisah tentang seorang kaya yang jauh dari kesan broken home bahakan cenderung berprestasi tapi ternyata terpengaruh dan menjadi seorang yang selalu “sempoyongan”. Kisah tentang seorang dari desa yang awalnya lugu tapi kini blagu. Kisah tentang seorang sahabatku yang telah berubah jadi seolah olah musuh. Kisah tentang orang yang sudah melakukan sesuatu yang diluar batas. Aku pun kecewa akan semua perubahan ini, aku menyesal telah menjaminkan diriku demi orang orang yang tak menghargai orang lain.

Kini UAS hamper tiba, aku yang sudah sedikit terkontaminasi berusaha keras untuk bangkit dari kegagalan ini. ALLAH, maafkan aku dan bantu aku untuk bertahan di jalanmu. Ayah Ibu, jangan tinggalkanku dulu hingga aku mampu memimpin kelurga ini.

AWAS Sepatu Kulit Babi!!!

Minggu, 03 Mei 2009








Pemilu

Kamis, 09 April 2009

Ehm,, emang sih ak bukan orang yang mengerti ekonomi dan politik,..Tapi menurut aku pileg adalah suatu hal yang mubadzir..gimana ga, kenal ama caleg aja kga kita disuruh milih mereka..

terus cara pemilihannya juga gitu, kertasnya segede gambreng hhe...jadi bnun

Pemilu

Selasa, 07 April 2009







countdown

Kamis, 02 April 2009

Unas yang kurang hitungan hari lagi buatku tambah ga karun..gmana ngaak, persiapan disekolah masih kurang banyak..TO ajja baru beberapa kali, yang pasti masih sedikit and kurang dari sekolah lain,.Padahal disekolah lain tingkat kegagalannya masih tinggi,,.Disamping itu, aku mencoba untuk berlatih sendiri, tapi apa hasilnya?? Belum seratus persen aku bisa..

hari ini tiba2 papa menasehatiku, beliau banyak memberikan amanat kepadaku untuk menjadi orang yang bisa berguna bagi agama, karena dengan begitu otomatis akupun akan berguna bagi duniaku..Tapi ada beberapa kata yang aku nggak suka, beliau berbicara masalah usia..hal ini yang paling aku ga suka and buat aku sedih..Ya Allah semoga engkau memberiku jalan yang terbaek.amien

nice word

Jumat, 27 Maret 2009

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali,

kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...

"ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama saja"

(WS Rendra)..